Langkahku terseret-seret,tubuh ku ringkih berdiri menahan gelombang rasa sakit yang mendera,tatapanku kosong ,anganku menyongsong asa yang masih tersisa,purnama sempurna tak berimbang dengan kenyataan yang ada. Ayah ku duduk di atas kursi tua rapuh yang sudah compang-camping menanyakan harapan untuk hari esok yang masih tidak tampak keberadaannya sedangkan ibu sedang duduk di depan perapian kayu yang sudah tidak pantas digunakan di jaman seperti ini untuk memasak-masakan kemarin yang masih tersisa di dapur. Ibu menyiapkan semuanya dan semua terasa nikmat kurasakan,ayah mengelus kepalaku ibu tersenyum padaku semua terasa indah tersaji di rumahku yang hampir runtuh. Dalam hati ku aku menangis haru memandang kedua orang tua ku yang kian menua,keriput kulitnya,memutih setiap helai rambutnya ,keringat tetap mereka persembahkan untuk darah daging mu ini. Tak ada sedikit pun sesal dari ku untuk keadaan ini. Ibu mendekap aku mesra,mencium keningku. “bagaimana keadaan kamu nak?” Tanya ibu sambil menatapku menghujam tajam kearah mataku “aku sehat bu,baik-baik saja!” jawabku dibumbui senyum manis untuk ibu “iyah,ibu lihat kamu semakin sehat” ibu membenarkan ucapannya sendiri,ibu melepaskan dekapannya.”pokok nya ayah sama ibu engga usah khawatir aku semakin sehat kok” ayah dan ibu semakin senang saja dengan pernyataan bohong yang aku keluarkan tadi. Tuhan maafkan kebohongan yang harus aku lakukan,aku tak mau menjadi beban bagi mereka,semoga kau tak murka. Selesai makan malam kami yang sederhana namun terasa mesra, aku berpamitan ke dua insan yang paling sempurna bagiku tak lupa kucium kening mereka yang terpancar keharmonisan disana. Aku kembali ke kamarku yang cukup untuk berselonjor kaki saja,kunyalakan radio yang kudapat dari lomba panjat pinang tujuhbelasan beberapa tahun yang lalu, kucari frekuensi radio favorite ku.
“…ribuan kilau jalan yang kau tempuh lewati rintangan untuk aku anak mu,ibu kusayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…”
Senandung lagu yang di nyanyikan iwan fals ini membuat aku tak sadarkan diri meneteskan air mata haru…”ibu dengan apa ku membalas ibu” gumamku menyesali,mengutuk penyakit ini. Batuk ku menjadi kian menjadi tak tahan tubuh ini menahan rasa sakit kututup mulut ini agar tak terdengar orang tuaku,darah keluar dari mulutku. Ku bersihkan dan aku kembali mencoba memejamkan mata ini. Dalam hati yang sungsang ku berdoa dan meminta kepada tuhan
“ya tuhan,orang tua ku adalah orang yang baik jangan kau hukum mereka sebagaimana engkau menghukumku tuhan,,,jagalah mereka di hari tua itu saja yang aku minta tuhan, maka kabulkanlah doaku”
Itu lah doa terakhirku untuk mereka,karena entah hari ini esok atau lusa aku sudah tak ada disini lagi selamat tinggal fajar aku akan memejamkan mata, selamat tinggal malam aku akan tenggelam ke dalam mimpi-mimpi ku yang kelam,selamat tinggal ayah,ibu semoga kalian tahu aku menyanyangi kalian sebagaimana kalian menyanyangiku.
 | Itu lah doa terakhirku untuk mereka,karena entah hari ini esok atau lusa aku sudah tak ada disini lagi selamat tinggal fajar aku akan memejamkan mata, selamat tinggal malam aku akan tenggelam ke dalam mimpi-mimpi ku yang kelam,selamat tinggal ayah,ibu semoga kalian tahu aku menyanyangi kalian sebagaimana kalian menyanyangiku
__________________________________________
mau kemana? ??? |
 | gue bingung epilog nya,,silahkan simpulin sendiri |
 | ya ampyun..... ditanya malah nyuruh simpulin ndiri hahahhaa sungguh terharu |
 | Makanya kuliah yg bener ay dan geura lulus meh teu nyiksa orangtua wae...Hehe.Urang teu nyambung nyak?Bae ah... |
 | erm,,, gak ngerti maksudnya,,,????
|
 | duh,critamu ini mengingatkanku kpd seseorang yg ku sayang..eheuu...'tp sapa yah' |
 | haduh ai saia hampir menitikan air mata hikzzzzz |
 | ulah muja ka sagara jeung munjung ka gunung, puja mah bapak jeung punjung mah indung...
wah, cerita yang bagus. |
| |